Dari Storytelling ke Storyliving menjadi fokus utama pembahasan artikel ini.
Storytelling ke storyliving sedang mengubah cara merek membangun hubungan dengan konsumen. Dulu, sebuah merek cukup pandai bercerita. Iklan yang menyentuh, kisah perjuangan yang inspiratif, atau narasi tentang keberanian dan keberhasilan dapat membuat konsumen terkesan. Merek membangun cerita, konsumen mendengarkan, lalu cerita tersebut diharapkan berujung pada keputusan membeli.
Hari ini, situasinya berbeda.
Konsumen tidak lagi hanya menerima cerita. Mereka mencari informasi sendiri, membandingkan produk, membaca ulasan, membagikan pengalaman, membuat konten, dan menceritakan kembali pengalaman mereka kepada orang lain. Di ruang digital, merek tidak lagi sepenuhnya memiliki kendali atas cerita tentang dirinya.
Indonesia memberikan gambaran menarik mengenai perubahan tersebut. DataReportal melaporkan sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan penetrasi internet sekitar 80,5 persen. Pada Oktober 2025, terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial. Angka terakhir perlu dibaca secara hati-hati karena menunjukkan user identities, bukan berarti 180 juta individu unik.
Namun, hal terpenting bukan sekadar besarnya angka tersebut. Transformasi yang lebih mendasar terjadi pada posisi konsumen: dari penerima pesan menjadi pihak yang ikut membentuk makna sebuah merek.
Di sinilah storytelling mulai menghadapi batasnya.
Sebab, cerita yang bagus belum tentu menghasilkan pengalaman yang bagus.
Dari Mendengar Cerita ke Mengalami Cerita
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau AI membuat produksi konten semakin mudah. Teks, gambar, video, dan berbagai bentuk komunikasi pemasaran kini dapat dibuat jauh lebih cepat, murah, dan personal.
Ketika hampir semua orang dan perusahaan mampu menghasilkan cerita yang menarik, persoalan pemasaran pun berubah.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang paling pandai bercerita, melainkan siapa yang mampu membuat konsumen mengalami cerita tersebut.
Di sinilah konsep storyliving menjadi relevan.
Storytelling menempatkan merek sebagai pencerita dan konsumen sebagai audiens. Sebaliknya, storyliving menggeser konsumen menjadi bagian dari cerita. Konsumen tidak hanya mendengar apa yang dikatakan merek, tetapi mengalami, merasakan, berinteraksi, bahkan ikut menciptakan pengalaman yang berkaitan dengan merek.
Konsep ini memiliki hubungan kuat dengan perkembangan experience economy. Pine dan Gilmore (1999) menjelaskan bahwa pengalaman memiliki karakter berbeda dari sekadar produk dan jasa karena pengalaman melibatkan individu secara personal.
Karena itu, konsumen tidak lagi sekadar membeli produk.
Mereka membeli pengalaman.
Ketika Produk Hanya Menjadi Bagian dari Cerita
Sebuah hotel, misalnya, tidak hanya menjual kamar. Hotel dapat menawarkan pengalaman tentang suatu destinasi: kuliner lokal, budaya, keramahan masyarakat, suasana lingkungan, hingga berbagai aktivitas yang membuat tamu mempunyai cerita untuk dibawa pulang.
Demikian pula sebuah kedai kopi.
Yang dibeli konsumen mungkin bukan sekadar secangkir kopi. Mereka datang untuk bertemu teman, bekerja, berdiskusi, membangun komunitas, menikmati suasana, atau memperoleh pengalaman tertentu yang kemudian dibagikan melalui media sosial.
Pada titik tersebut, produk hanyalah salah satu bagian dari cerita.
Pengalamanlah yang membuat cerita menjadi hidup.
Dessart dan Pitardi (2019) menunjukkan bahwa unsur cerita seperti alur, karakter, dan tingkat kemiripan dengan realitas dapat memicu keterlibatan konsumen secara kognitif, emosional, dan perilaku. Studi tersebut juga memperlihatkan adanya dimensi interaktif dalam keterlibatan yang muncul melalui storytelling.
Kang, Hong, dan Hubbard (2020) juga menemukan bahwa storytelling dalam periklanan dapat meningkatkan respons emosional dan berkaitan dengan kecenderungan konsumen melakukan word-of-mouth.
Dengan demikian, storytelling bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan. Storytelling dapat menjadi pintu masuk menuju keterlibatan konsumen.
Namun, dalam ekosistem digital, keterlibatan tersebut bergerak lebih jauh.
Konsumen dapat menemukan sebuah merek melalui video pendek, membaca ulasan, berdiskusi dalam komunitas, mencoba produk, memberikan komentar, membuat konten, kemudian membagikan pengalamannya kepada ratusan bahkan ribuan orang.
Pengalaman konsumen akhirnya berubah menjadi media pemasaran itu sendiri.
Ketika AI Membuat Cerita Menjadi Mudah
Kehadiran AI menciptakan sebuah paradoks baru dalam pemasaran.
Di satu sisi, AI memungkinkan perusahaan menghasilkan komunikasi secara cepat, personal, dan dalam skala besar. Perusahaan dapat menggunakan teknologi untuk membantu menghasilkan teks pemasaran, gambar, video, rekomendasi produk, hingga komunikasi yang disesuaikan dengan karakteristik pelanggan.
Di sisi lain, semakin mudah cerita diproduksi, semakin tinggi nilai pengalaman yang autentik.
Ketika hampir semua merek dapat menghasilkan gambar yang indah, video yang menarik, dan narasi yang persuasif, konsumen akan semakin kritis terhadap kesesuaian antara cerita dan kenyataan.
Sebuah merek boleh mengatakan bahwa dirinya peduli kepada pelanggan. Tetapi jika pelanggan memperoleh pelayanan buruk, cerita tersebut kehilangan kredibilitas.
Perusahaan dapat berbicara tentang keberlanjutan. Namun, apabila praktik bisnisnya bertentangan dengan pesan tersebut, konsumen memiliki ruang digital yang sangat luas untuk mempertanyakannya.
Karena itu, AI dapat mempercepat storytelling, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman nyata konsumen.
Justru ketika teknologi komunikasi semakin canggih, unsur manusia menjadi semakin penting: autentisitas, emosi, empati, relevansi, kepercayaan, dan konsistensi antara janji merek dengan pengalaman konsumen.
Dari Telling ke Living
Pergeseran storytelling ke storyliving pada akhirnya bukan sekadar pergantian istilah pemasaran. Ini merupakan perubahan cara pandang terhadap hubungan antara merek dan konsumen.
Merek tidak cukup lagi bertanya:
“Cerita apa yang ingin kita sampaikan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Pengalaman apa yang ingin kita ciptakan agar konsumen bersedia menjadi bagian dari cerita tersebut?”
Pertanyaan kedua mengharuskan perusahaan melihat pemasaran secara lebih utuh. Produk, pelayanan, teknologi, karyawan, komunitas, kanal digital, hingga pengalaman setelah pembelian tidak dapat dipisahkan secara kaku.
Jika storytelling berpusat pada brand narrative, maka storyliving bergerak menuju brand experience.
Jika storytelling berusaha membuat konsumen mendengar dan mempercayai cerita, storyliving berusaha membuat konsumen mengalami dan ikut menciptakan cerita.
Dengan demikian, konsumen berubah dari audience menjadi participant, bahkan dalam kondisi tertentu menjadi co-creator dan brand storyteller.
Storyliving di Tengah Ekonomi Digital Indonesia
Transformasi tersebut berlangsung bersamaan dengan semakin besarnya ekonomi digital Indonesia.
Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia mendekati US$100 miliar gross merchandise value (GMV) pada 2025, tumbuh sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan tersebut juga menunjukkan perkembangan pada video commerce, pembayaran digital, dan media online.
Namun, angka tersebut sebaiknya tidak hanya dibaca sebagai besarnya peluang transaksi.
Di balik jutaan transaksi terdapat jutaan pengalaman konsumen.
Dan setiap pengalaman berpotensi menjadi cerita.
Konsumen yang memperoleh pengalaman positif dapat memberikan ulasan, mengunggah foto atau video, merekomendasikan produk, dan menceritakannya kepada orang lain. Sebaliknya, pengalaman negatif juga dapat menyebar dengan kecepatan yang sama—bahkan terkadang lebih cepat.
Artinya, perusahaan masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Mereka harus mampu merancang pengalaman yang konsisten dengan cerita merek.
Satu pengalaman buruk dapat mengurangi pengaruh puluhan iklan yang bagus. Sebaliknya, satu pengalaman yang sangat berkesan dapat mengubah seorang konsumen menjadi pencerita baru bagi sebuah merek.
Konsumen Tidak Lagi Menjadi Penonton
Inilah perubahan fundamental dalam pemasaran digital.
Konsumen bukan lagi penonton yang duduk di luar cerita.
Mereka berada di dalam cerita.
Mereka mengalami produk, berinteraksi dengan layanan, berhubungan dengan karyawan, memberikan penilaian, membuat konten, berbicara dalam komunitas, dan menyebarkan interpretasi mereka sendiri mengenai sebuah merek.
Karena itu, perusahaan tidak sepenuhnya dapat menentukan bagaimana cerita mereknya akan berakhir.
Merek menyediakan panggung, tetapi pengalaman konsumen ikut menentukan jalan ceritanya.
Dalam konteks ini, storyliving bukan berarti storytelling menjadi tidak relevan. Sebaliknya, storytelling tetap penting untuk membangun narasi, identitas, dan ekspektasi. Namun, cerita tersebut harus diwujudkan melalui pengalaman nyata.
Storytelling membangun janji. Storyliving membuktikan janji tersebut melalui pengalaman.
Di sinilah keduanya bertemu.
Dari Cerita Menuju Pengalaman yang Diingat
Pada akhirnya, konsumen mungkin lupa slogan sebuah iklan. Mereka mungkin lupa kalimat persis yang pernah disampaikan sebuah merek.
Tetapi mereka cenderung mengingat bagaimana sebuah merek membuat mereka merasa.
Karena itu, pertanyaan terbesar pemasaran hari ini bukan lagi:
“Cerita apa yang akan kita sampaikan?”
Melainkan:
“Pengalaman apa yang akan kita ciptakan sehingga konsumen ingin hidup di dalam cerita itu?”
Di situlah storytelling ke storyliving menemukan maknanya—ketika pemasaran tidak berhenti pada kemampuan sebuah merek menceritakan sesuatu, tetapi berlanjut pada kemampuannya menciptakan pengalaman yang autentik, relevan, dan layak diceritakan kembali.
Konsumen tidak lagi berada di luar cerita.
Mereka hidup di dalamnya.
