SCIENCE NEWS 360 • KNOWLEDGE WITHOUT BORDERSYouTube · LinkedIn
Science News 360
BerandaOPINION
OPINIONDiterbitkan editorial

Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba: Perspektif Ekonomi

Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba adalah kearifan ekonomi Aceh tentang mencari laba di sela-sela (ruang) transaksi melalui penciptaan nilai, jaringan, perputaran modal, dan peluang ekonomi jangka panjang.

Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba: Sebuah Paradoks Ekonomi dari Aceh
Science News 360Paradoks Ekonomi

“Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba” merupakan salah satu ungkapan yang hidup dalam masyarakat Aceh. Secara sederhana, ungkapan ini dapat diterjemahkan sebagai “beli sepuluh, jual sembilan, di sela-sela (ruang) kita mencari laba.” Sekilas, prinsip tersebut terdengar bertentangan dengan logika ekonomi. Bagaimana mungkin seseorang membeli dengan harga 10, kemudian menjual dengan harga 9, tetapi masih berharap memperoleh keuntungan?

Dalam perhitungan perdagangan sederhana, tindakan tersebut jelas menghasilkan kerugian. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika keputusan ekonomi tidak hanya dilihat dari satu transaksi. Melalui perspektif dynamic profit maximization, opportunity cost, capital turnover, customer lifetime value, network economics, transaction cost, dan social capital, ungkapan Aceh tersebut dapat dibaca sebagai sebuah gagasan ekonomi yang jauh lebih kompleks.

Kunci pemikirannya justru terletak pada kalimat terakhir: “Lam Ruweung Tamita Laba.” Laba tidak semata-mata dicari dari selisih harga beli dan harga jual, tetapi juga dari nilai yang dapat diciptakan di sela-sela (ruang) transaksi tersebut.

Paradoks Beli Sepuluh dan Jual Sembilan

Dalam teori ekonomi sederhana, keuntungan atau profit merupakan selisih antara total penerimaan (Total Revenue/TR) dan total biaya (Total Cost/TC).

π = TR − TC

Jika barang dibeli dengan harga 10 dan kemudian dijual dengan harga 9, maka:

π = 9 − 10 = −1

Artinya, pedagang mengalami kerugian sebesar satu unit.

Jika analisis berhenti sampai di sini, Bloe Siploh, Publoe Sikeureung tentu tidak rasional. Apabila seseorang terus-menerus membeli dengan harga 10 dan menjual barang yang sama dengan harga 9 tanpa sumber nilai lain, modalnya akan terus berkurang.

Namun, analisis tersebut merupakan static single-transaction analysis. Ia hanya melihat satu transaksi pada satu titik waktu.

Ungkapan Aceh tersebut justru menambahkan dimensi lain:

Lam Ruweung Tamita Laba.

Artinya, terdapat sela-sela (ruang) antara membeli dan menjual yang dapat menjadi tempat munculnya nilai ekonomi lain.

Pertanyaan ekonominya kemudian berubah dari:

“Berapa keuntungan dari barang yang saya jual?”

menjadi:

“Berapa total nilai ekonomi yang tercipta akibat transaksi tersebut?”

Perubahan cara melihat keuntungan inilah yang membuat paradoks tersebut menarik.

Dari Transaction Profit Menuju Total Economic Value

Keuntungan ekonomi tidak selalu identik dengan direct trading margin. Dalam kondisi tertentu, kerugian pada sebuah transaksi dapat diterima apabila transaksi tersebut menghasilkan nilai lain yang lebih besar.

Konsep sederhananya dapat dirumuskan:

π = (Pₛ + Vᵣ) − Pᵦ

di mana:

π = total keuntungan ekonomi (economic profit)

Pₛ = harga jual (selling price)

Pᵦ = harga beli (purchase price)

Vᵣ = nilai ekonomi yang tercipta di sela-sela (ruang), atau intermediary economic value

Misalnya:

Pᵦ = 10; Pₛ = 9; Vᵣ = 3

maka:

π = (9 + 3) − 10 = 2

Kerugian langsung dari jual-beli adalah:

9 − 10 = −1

Namun, terdapat nilai ekonomi lain sebesar 3 yang tercipta di sela-sela (ruang). Akibatnya, keuntungan ekonomi keseluruhan menjadi:

π = 2

Dengan demikian:

Pₛ < Pᵦ

tidak selalu menghasilkan:

π < 0

sepanjang:

Vᵣ > (Pᵦ − Pₛ)

Secara sederhana:

Nilai di sela-sela (ruang) > kerugian transaksi langsung

Di sinilah rasionalitas ekonomi Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba mulai terlihat.

Lam Ruweung sebagai Sela-Sela (Ruang) Penciptaan Nilai

Bagian terpenting dari ungkapan tersebut sebenarnya bukan siploh atau sikeureung, melainkan ruweung.

Dalam konteks ini, ruweung dapat dimaknai sebagai sela-sela (ruang) tempat pelaku ekonomi menemukan dan menciptakan nilai yang tidak terlihat dalam selisih harga langsung.

Secara ekonomi, ruweung dapat dibaca sebagai economic space for value creation.

Sela-sela (ruang) tersebut dapat berupa pelanggan baru, transaksi berikutnya, penjualan produk lain, percepatan perputaran modal, informasi pasar, jaringan bisnis, reputasi, kepercayaan, maupun peluang ekonomi pada masa depan.

Maka alur ekonomi tidak lagi hanya:

Buy → Sell → Profit

tetapi dapat berkembang menjadi:

Buy → Value Creation → Network → Opportunity → Sell → Future Transactions → Profit

Keuntungan menjadi hasil dari keseluruhan ekosistem transaksi, bukan sekadar selisih antara dua harga.

Loss-Leader Strategy: Rugi pada Barang, Untung pada Transaksi

Dalam praktik bisnis modern terdapat strategi yang memiliki logika serupa, yaitu loss-leader strategy. Sebuah produk dapat ditawarkan dengan margin sangat rendah atau bahkan menimbulkan kerugian untuk mendorong konsumen melakukan pembelian lain.

Misalnya, sebuah toko membeli produk seharga Rp100.000 dan menjualnya Rp95.000.

Kerugian langsung:

Rp95.000 − Rp100.000 = −Rp5.000

Namun, konsumen yang datang kemudian membeli produk lain yang menghasilkan keuntungan Rp40.000.

Maka:

Total Profit = −Rp5.000 + Rp40.000 = Rp35.000

Produk pertama menghasilkan negative margin, tetapi membuka sela-sela (ruang) bagi terciptanya transaksi lain.

Kajian mengenai promosi harga juga menunjukkan bahwa perilaku konsumen terhadap promosi dan nilai tidak sesederhana sekadar harga murah; karakteristik konsumen dan manfaat ekonomi yang mereka persepsikan ikut menentukan respons terhadap promosi (Ailawadi, Neslin, & Gedenk, 2001).

Dalam perspektif ini, Publoe Sikeureung dapat menjadi instrumen untuk menciptakan customer traffic, cross-selling, dan transaksi lanjutan.

Customer Lifetime Value: Pelanggan Lebih Besar daripada Satu Transaksi

Konsep Customer Lifetime Value (CLV) semakin memperkuat argumentasi tersebut.

Nilai seorang pelanggan tidak semestinya hanya dihitung dari pembelian pertamanya. Yang relevan adalah keseluruhan arus keuntungan yang dapat diberikan pelanggan selama hubungan ekonominya dengan perusahaan.

Secara sederhana:

CLV = Σ [Mₜ ÷ (1 + r)ᵗ] − CAC

di mana:

Mₜ = margin pelanggan pada periode ke-t

r = tingkat diskonto

CAC = Customer Acquisition Cost

Karena itu, kondisi berikut dapat terjadi:

Profit transaksi pertama < 0

tetapi:

Total Lifetime Profit > 0

Blattberg dan Deighton (1996) telah menekankan pentingnya menyeimbangkan biaya mendapatkan pelanggan dan mempertahankan pelanggan. Penelitian Reinartz dan Kumar (2000) selanjutnya menunjukkan bahwa hubungan antara lamanya hubungan pelanggan dan profitabilitas perlu dianalisis secara empiris dan tidak cukup diasumsikan begitu saja.

Gupta, Lehmann, dan Stuart (2004) bahkan menunjukkan bahwa nilai pelanggan dapat dikonseptualisasikan sebagai jumlah pendapatan masa depan yang didiskontokan. Dengan demikian, pelanggan merupakan aset ekonomi yang nilainya jauh melampaui transaksi hari ini.

Inilah salah satu bentuk modern dari Lam Ruweung Tamita Laba: laba dapat berada di sela-sela (ruang) hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Capital Turnover: Margin Kecil Bukan Berarti Laba Kecil

Paradoks tersebut juga dapat dijelaskan melalui capital turnover atau perputaran modal.

Bayangkan dua pedagang.

Pedagang A mengambil margin 20 persen, tetapi modalnya hanya berputar satu kali dalam periode tertentu:

20% × 1 = 20%

Pedagang B memperoleh margin bersih hanya 4 persen, tetapi modalnya dapat berputar delapan kali:

4% × 8 = 32%

Pedagang B memiliki margin per transaksi lebih rendah, tetapi keuntungan kumulatifnya lebih besar.

Secara sederhana:

Annual Profit ≈ Margin per Cycle × Number of Turnovers

Artinya, pelaku usaha yang hanya mengejar margin tinggi belum tentu memperoleh keuntungan terbesar.

Sela-sela (ruang) laba dalam kasus ini berada pada kecepatan perputaran modal.

Opportunity Cost: Kerugian Kecil Bisa Menjadi Keputusan Rasional

Konsep opportunity cost memberikan penjelasan lain.

Misalnya, seorang pedagang membeli barang dengan harga 10. Kondisi pasar kemudian berubah dan barang tersebut hanya dapat dijual dengan harga 9.

Ia dapat menolak menjual karena tidak ingin rugi, atau menerima kerugian satu unit dan menggunakan modal 9 tersebut untuk peluang yang lebih produktif.

Jika peluang berikutnya menghasilkan keuntungan 3:

Net Economic Result = −1 + 3 = 2

Menerima kerugian kecil ternyata dapat menjadi keputusan yang rasional.

Hal ini juga menarik jika dikaitkan dengan Prospect Theory. Kahneman dan Tversky (1979) menunjukkan bahwa manusia tidak selalu memperlakukan keuntungan dan kerugian secara simetris; kerugian memiliki bobot psikologis yang kuat dalam pengambilan keputusan.

Karena itu, keengganan menjual barang di bawah harga beli belum tentu merupakan keputusan ekonomi terbaik. Pelaku usaha harus membandingkan kerugian tersebut dengan opportunity cost dari modal yang tertahan.

Network Economics: Nilai Berada dalam Jaringan

Dalam ekonomi modern, terutama ekonomi digital, keuntungan bahkan dapat berada di luar transaksi individual.

Katz dan Shapiro (1985) menunjukkan pentingnya network externalities: nilai suatu produk atau sistem dapat meningkat ketika jumlah pengguna bertambah.

Secara konseptual:

Users ↑ → Network Value ↑ → Transactions ↑ → Economic Opportunities ↑

Karena itu, perusahaan dapat bersedia memberikan diskon, subsidi, layanan gratis, atau menerima negative margin pada tahap tertentu untuk memperbesar jaringan.

Keuntungan akhirnya diperoleh melalui monetisasi ekosistem yang telah terbentuk.

Dalam perspektif ruweung, laba berada di sela-sela (ruang) jaringan yang tercipta karena transaksi awal tersebut.

Social Capital dan Ekonomi Kepercayaan

Dimensi lain yang sangat relevan dengan masyarakat Aceh adalah social capital.

Aktivitas ekonomi tidak selalu berlangsung antara individu-individu yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan sosial. Granovetter (1985) melalui konsep embeddedness menunjukkan bahwa tindakan ekonomi melekat dalam struktur hubungan sosial.

Hubungan ekonomi dapat mengandung kepercayaan, reputasi, jaringan, dan hubungan jangka panjang.

Secara sederhana:

Trust ↑ → Transaction Cost ↓

dan:

Transaction Cost ↓ → Economic Cooperation ↑ → Long-Term Economic Value ↑

Williamson (1981) menunjukkan pentingnya transaction costs dalam memahami bagaimana aktivitas ekonomi diorganisasikan. Jika kepercayaan dan hubungan yang stabil mampu mengurangi biaya pencarian informasi, negosiasi, pengawasan, dan ketidakpastian, maka hubungan sosial mempunyai konsekuensi ekonomi nyata.

Seorang pedagang mungkin mengurangi margin hari ini untuk menjaga pelanggan, reputasi, atau hubungan bisnis.

Secara transaksi, keuntungannya menurun.

Namun secara ekonomi jangka panjang, social capital yang terbentuk dapat memiliki nilai lebih besar.

Di sinilah terdapat lagi sela-sela (ruang) keuntungan.

Dari Static Profit menuju Dynamic Profit Maximization

Inti dari paradoks Aceh ini dapat diringkas melalui perbedaan antara static profit dan dynamic profit maximization.

Dalam analisis statis:

10 → 9 = −1

Keputusan terlihat tidak rasional.

Namun dalam analisis dinamis:

−1 + Future Value + Network Value + Social Value + Opportunity Value > 0

keputusan tersebut dapat menjadi rasional.

Secara konseptual:

Max Π = Σ [πₜ ÷ (1 + r)ᵗ]

Artinya, tujuan pelaku ekonomi tidak harus:

Max πₜ

pada setiap transaksi.

Tujuannya dapat berupa:

Max Present Value of Total Future Profits

Pendekatan customer equity juga bergerak ke arah pemikiran semacam ini. Rust, Lemon, dan Zeithaml (2004) menunjukkan bagaimana strategi pemasaran dapat dievaluasi berdasarkan perubahan nilai pelanggan sekarang dan masa depan, bukan hanya hasil penjualan sesaat.

Menuju Ruweung Economics Framework

Berdasarkan pembacaan tersebut, kearifan ekonomi Aceh ini dapat dikembangkan sebagai sebuah kerangka konseptual yang untuk sementara dapat disebut Ruweung Economics Framework.

Kerangka ini tidak dimaksudkan untuk mengklaim bahwa sebuah teori ekonomi baru telah terbukti. Untuk menjadi teori yang mapan diperlukan pengembangan konstruk, proposisi, boundary conditions, pengujian empiris, dan replikasi.

Namun sebagai conceptual framework, Ruweung Economics dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa keuntungan ekonomi dapat muncul dari berbagai nilai yang tercipta di sela-sela (ruang) transaksi.

Secara konseptual:

REP = DTM + IV + FOV + NV + SCV

di mana:

REP = Ruweung Economic Profit

DTM = Direct Trading Margin

IV = Intermediary Value

FOV = Future Opportunity Value

NV = Network Value

SCV = Social Capital Value

Keadaan yang tampaknya paradoks dapat terjadi:

DTM < 0

tetapi:

REP > 0

Dengan kata lain:

Negative transaction margin does not necessarily imply negative total economic profit.

Namun terdapat syarat penting:

IV + FOV + NV + SCV > |DTM|

Artinya, total nilai yang tercipta di sela-sela (ruang) harus lebih besar daripada kerugian langsung dari transaksi.

Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, membeli 10 dan menjual 9 tetap merupakan keputusan yang menghasilkan kerugian.

Dengan demikian, Ruweung Economics bukan pembenaran untuk menjual rugi. Kerangka ini justru menuntut pelaku ekonomi untuk dapat menjelaskan dari mana nilai tambahan berasal dan apakah nilainya benar-benar melebihi kerugian transaksi langsung.

Kesimpulan

“Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba” pada awalnya terdengar sebagai sebuah paradoks ekonomi: membeli sepuluh, menjual sembilan, tetapi tetap mencari keuntungan. Jika hanya dianalisis berdasarkan satu transaksi, tindakan tersebut memang tidak rasional karena menghasilkan negative trading margin.

Namun ilmu ekonomi dan bisnis modern menunjukkan bahwa transaction profit tidak selalu sama dengan total economic profit.

Keuntungan dapat muncul dari customer lifetime value, capital turnover, cross-selling, opportunity value, network effects, transaction-cost reduction, maupun social capital. Karena itu, transaksi yang menghasilkan kerugian langsung masih dapat rasional apabila membuka peluang ekonomi yang menghasilkan nilai lebih besar.

Di sinilah Lam Ruweung Tamita Laba memperoleh makna ekonominya. Ruweung adalah sela-sela (ruang) tempat nilai lain dapat diciptakan antara keputusan membeli, menjual, membangun hubungan, memutar modal, memperluas jaringan, dan memperoleh peluang berikutnya.

Prinsip tersebut dapat diringkas:

Direct Trading Margin < 0 ≠ Total Economic Profit < 0

selama:

Total Value Created in Ruweung > Direct Transaction Loss

Dengan demikian, Bloe Siploh, Publoe Sikeureung, Lam Ruweung Tamita Laba tidak harus dibaca sebagai ajakan untuk “membeli mahal dan menjual murah.” Maknanya lebih dalam: jangan menilai keuntungan hanya dari satu transaksi ketika transaksi tersebut menciptakan sela-sela (ruang) bagi lahirnya nilai ekonomi lain.

Di titik inilah kearifan lokal Aceh bertemu dengan ekonomi modern. Sebuah ungkapan sederhana dari kehidupan masyarakat dapat membuka diskusi tentang dynamic profit maximization, customer equity, network economics, opportunity cost, transaction costs, dan social capital.

Dan mungkin pesan ekonominya dapat dirumuskan secara sederhana: laba tidak selalu berada pada selisih harga yang terlihat hari ini; laba dapat berada di sela-sela (ruang) antara transaksi hari ini dan nilai ekonomi yang diciptakannya pada masa depan.


Referensi

Referensi Ailawadi, K. L., Neslin, S. A., & Gedenk, K. (2001). Pursuing the value-conscious consumer: Store brands versus national brand promotions. Journal of Marketing, 65(1), 71–89. https://doi.org/10.1509/jmkg.65.1.71.18132 Blattberg, R. C., & Deighton, J. (1996). Manage marketing by the customer equity test. Harvard Business Review, 74(4), 136–144. Ehrenberg, A. S. C., Hammond, K., & Goodhardt, G. J. (1994). The after-effects of price-related consumer promotions. Journal of Advertising Research, 34(4), 11–21. https://doi.org/10.1080/00218499.1994.12466958 Granovetter, M. (1985). Economic action and social structure: The problem of embeddedness. American Journal of Sociology, 91(3), 481–510. https://doi.org/10.1086/228311 Gupta, S., Lehmann, D. R., & Stuart, J. A. (2004). Valuing customers. Journal of Marketing Research, 41(1), 7–18. https://doi.org/10.1509/jmkr.41.1.7.25084 Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect theory: An analysis of decision under risk. Econometrica, 47(2), 263–291. https://doi.org/10.2307/1914185 Katz, M. L., & Shapiro, C. (1985). Network externalities, competition, and compatibility. American Economic Review, 75(3), 424–440. Reinartz, W. J., & Kumar, V. (2000). On the profitability of long-life customers in a noncontractual setting: An empirical investigation and implications for marketing. Journal of Marketing, 64(4), 17–35. https://doi.org/10.1509/jmkg.64.4.17.18077 Rust, R. T., Lemon, K. N., & Zeithaml, V. A. (2004). Return on marketing: Using customer equity to focus marketing strategy. Journal of Marketing, 68(1), 109–127. https://doi.org/10.1509/jmkg.68.1.109.24030 Williamson, O. E. (1981). The economics of organization: The transaction cost approach. American Journal of Sociology, 87(3), 548–577. https://doi.org/10.1086/227496